Eksotisme Pantai Ngiroboyo Pacitan

 Day 1

Redup fajar menyeruak dari celah-celah fly sheet tenda saya yang menahan rintik hujan kala itu, tak terasa sudah pagi menjelang. Perlahan namun pasti, mentari mulai menyapu gelapnya malam, sembari menikmati secangkir kopi saya pun nikmati persembahan tuhan pagi ini.
Saya pun menengok tenda rekan-rekan yang lain, rupanya yang sudah terjaga dari lelapnya tidur baru mas Widhi. Berdua, kami pun mulai berkeliling untuk hunting beberapa foto.
Rupanya lagi- lagi alam berkata lain untuk kami, tak selang lama, mendung mulai menyelimuti langit sekitar pantai Banyu tibo.
Oh iya, hari ini ternyata kami harus bergegas pindah lokasi kamping ceria kami. Sembari menikmati nasi magelangan buah karya tangan saya ( yang sepertinya gagal, hahahaha ) kami pun berdiskusi mau ke mana lagi kamping kami malam ini.
Ketika diskusi sudah menemui jalan buntu, mas penjaga warung tempat kami ( numpang ) makan magelangan berkata kalau ada satu lokasi pantai yang mungkin cocok untuk kemping ceria kami malam ini.

BeWe Ngiroboyo Pacitan Mandi

Mandi di bathtub alam..

 

 Touch Down.

Menjelang siang, setelah kami berkubang di sungai kecil dekat tenda kami berdiri, kami memutuskan untuk memutuskan beranjak pergi dari Pantai Banyu  Tibo.
Setelah semua sudah tepacking dengan rapi, kami pun berpamitan dengan warga sekitar, kami sangat berterima kasih dengan semua bantuan dan keramah tamahan mereka selama kami kamping di sana.
Berbekal penanda arah, dan patokan dari warga sekitar, kami pun memulai perjalanan kami.
Masih berhadapan dengan jalan berliku dan naik turun, kami menikmati perjalanan kami.
Setelah dua jam perjalanan akhirnya kami melihat lokasi kamping kami malam nanti.
Pantai Ngiroboyo, ya, itu nama pantai pantai ini. Bentaran pasir yang luas, pohon kelapa yang berjajar rapi sepertinya akan menjadi teman kami malam nanti.
Belum hilang rasa terkejut kami karena keindahan pantai ini, kami pun di buat terkejut lagi karena rupanya pantai ini di lalui sungai  yang membentuk sebuah danau kecil.
Tak perlu menunggu waktu yang lama, kami pun bergegas berganti baju basah yang sudah kami pakai untuk berkubang tadi di Pantai Banyu Nibo untuk berkubang lagi menikmati danau kecil ini.
Tak perlu takut tenggelam, karena di warung pantai ini menyewakan life vest untuk para wisatawan yang menyambangi pantai ini.
Tak terasa senja sudah melirik kami dari ufuk barat, kami pun memutuskan untuk segera bilas dan mendirikan tenda kami.
Lagi – lagi keramah tamahan penduduk sekitar dapat kami rasakan di pantai ini. Mereka menawarkan untuk beristirahat di warung mereka saja, karena memang gerimis mulai turun lagi sore itu.
Sembari bertingkah konyol, dan absurd ( kata anak gaul jaman sekarang ), kami mulai mengumpulkan kelapa kering dan kayu – kayu untuk membuat api unggun, menikmati hangat nya secangkir kopi, dan hangat nya diskusi kami malam ini. Dari membahas soal Fotografi, Politik, Alam, sampai bahasan yang tidak penting pun kami bahas malam itu.
Malam pun semakin larut, dan kami menutup diskusi malam itu dengan ucapan selamat tidur.

BeWe Ngiroboyo Pacitan

Akhirnya touchdown juga

 

 Pagi Di Ngiroboyo.

Harapan saya pupus pagi itu untuk mendapatkan sunrise yang cantik di pantai ini. Karena lagi – lagi langit gelap menutup mentari pagi kala itu. Tapi rupanya itu bukan halangan untuk rekan saya mas Widhi untuk tetap mengabadikan moment pagi itu, meski rintik gerimis mengguyurnya, dia tetap jalan – jalan di sekitar lokasi kamping.
Menjelang tengah hari, semua rekan – rekan sudah beranjak keluar dari tenda masing – masing untuk menyiapkan sarapan kami. Menu pagi ini sedikit mewah, spagetti , dan telur kornet, tak lupa juga ada puding coklat untuk menu penutup kami yang kami nikmati sembari berkubang di danau.
Setelah makan besar, kami melanjutkan kegiatan pembodohan diri kami hahahahaha, dari yang mencoba berdiri di papan surfing, sampai menangkap ikan dengan tangan kosong.
Dari kamping kali ini kami menyimpulkan rumus baru dalam kamping, “Semakin bahagia orang, semakin menurun pula kecerdasannya”. Jadi jika rekan – rekan pintar atau bahkan genius, bisa di simpulkan rekan – rekan sebenarnya kurang piknik, hahahahahaha.. sebuah pemikiran yang brilliant dari Mas Widhi .
Benar – benar berat buat kami untuk beranjak pergi meninggal kan  pantai ini sore itu.
Tapi apa di kata, jadwal kami yang padat memaksa kami untuk bergegas pulang ke kota nan penat lagi.
Kami pun berpisah di pasar Pracimantoro, Mas Widhi kembali ke solo, saya, Mas Diska, dan Mas Welly kembali menuju Yogyakarta.
Akan kemana lagi kamcer besok..??, Tunggu saja secarik ceritanya …

BeWe Sunrise Banyu Tibo

Mentarinya sembunyi di balik bukit