Banyu Nibo

Gemericik gerimis menyanyikan lulaby syahdu seolah memaksaku untuk tetap tinggal di peraduan ku pagi ini, namun jam sudah menunjukkan pukul 04:00WIB, dan aku harus beranjak untuk segera melaju kuda besi ku.
Ya, hari di mana sekali lagi sebuah kenangan manis bersama rekan-rekan, akan terulang lagi hari ini.
Saya, Diska, Mas bebek, dan Welly akan menapakkan kaki, dan membagi 3 hari kami ke depan di Pacitan, Jawa Timur.
Misi kami masih sama, melanjutkan adat ” Kapan kita ke mana ?? ” kami, Misi yang sepertinya tiada arti, namun penuh dengan investasi.
Kami memilih Jawa Timur karena memang kami jarang mengambah pesisir selatan wilayah ini. Dan kebetulan juga salah satu peserta kali ini memang lagi ngidam ingin pergi ke arah timur, jadi jatuhlah pilihan kami untuk mendirikan tenda di pantai Banyu Nibo ini.
Sebuah pantai yang mulai ramai di perbincangan para penggila pasir putih, dan air pantai yang jernih. Di tambah lagi, sebuah air terjun yang langsung mengarah ke laut mempercantik pantai yang sebenarnya kecil ini.
Perjalan menuju ke pantai ini memakan waktu 4 jam dari Yogyakarta, dan 3 jam dari Solo, Detail arah menuju pantai ini tidak akan saya ceritakan secara detail demi keselamatan pantai ini sendiri ( padahal sudah banyak warung berdiri ala kadarnya di sini ).
Siang menjelang sore saya dan rombongan sampai di pantai ini, langit cukup bersahabat karena terik mentari masih kami rasakan.
Berjalan sedikit lebih jauh, menyusur tebing-tebing yang longsor karena abrasi, kami menemukan lagi pantai yang cukup landai, sepi , tidak ada jejak kaki, hanya ada pasir putih di sepanjang mata kami memandang, sayangnya kami tidak bisa menancapkan tenda-tenda kami di sini karena jika air pasang, pantai ini akan hilang rupanya.
Akhirnya kami putuskan untuk mendirikan tenda-tenda kami di samping air terjun Banyu Nibo, dengan harapan ketika esok pagi kami bangun, kami dapat langsung menikmati sunrise nan syahdu dari dalam tenda kami.
Sayangnya harapan kami tinggallah harapan, karena pukul 02:00WIB, sesaat setelah kami beranjak ke peraduan, hujan lebat mengguyur hingga subuh menjelang, memaksa mentari pagi harus tetap berselimut awan tebal yang menggelantung.
Namun tak mengapa, karena misi kami bukan untuk memburu foto, atau materi.
Selama kami masih dapat berbagi kopi, dan saling menginspirasi, kami punya alasan untuk kembali lagi esok hari.

Berjalan lebih jauh, dan camping lebih lama..

Berjalan lebih jauh, dan camping lebih lama..